Dampak Negatif Pupuk Kimia Sintesis dan Pestisida Bagi Lahan Pertanian

Dampak dari bahanya penggunaan pupuk kimia sintesis dan pestisida akhir-akhir ini mengkhawatirkan banyak pihak. Terutama dalam bidang pertanian, petani sulit menolak akan beredarnya pupuk kimia sintesis dan pestisida dengan aneka ragam merek dagangnya. Padahal dari produk pestisida ini bisa membuat lahan pertanian di daerah semakin menurun kualitasnya. Walaupun demikian, kesadaran masyarakat petani masih rendah tentang bahaya penggunaan pestisida dalam jangka waktu lama.

Pencemaran air, pencemaran tanah serta pencemaran udara mayoritas diakibatkan dari penggunaan pestisida dan pupuk kimia di aeral pertanian. Pencemaran air memberi dampak nyata bagi lingkungan. Pencemaran air ini bisa berasal dari polutan/limbah cair yang sengaja atau tidak sengaja ikut tercampur di dalam air. Ini bisa terjadi karena membuang limbah ke sungai, penggunaan pupuk kimia cair atau pestisida yang kemudian larut dalam air di sekitar daerah pertanian, dan lain sebagainya. Senyawa-senyawa kimia yang berasal dari polutan, limbah, pestisida, atau pupuk kimiawi itu sangat berbahaya. Karena mayoritas senyawa logam berat dapat membunuh ekosistem di sekitar perairan tersebut. Ikan-ikan kecil, maupun ikan besar, udang-udang kecil, tumbuhan air juga akan terkena dampak negatif/buruk dari pencemaran air tersebut. Jika berada dalam lingkup lahan pertanian, ini bisa membahayakan bagi tumbuhan yang terakumulasi senyawa logam berat tersebut. Senyawa DDT dari pestisida bisa terakumulasi di dalam daun/organ tanaman sayuran. Jika dikonsumsi oleh manusia maka akan menyebabkan terjadinya mutasi gen dan kromosom, sehingga susunan kromosom akan berubah pada saat terjadi pembelahan sel. Ini bisa memicu kanker, dimana kanker sendiri merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia. Selain itu, kelebihan senyawa kimia dari pupuk yang ada di daerah perairan bisa menyebabkan peristiwa eutrofikasi yang mana ini bisa saja membahayakan bagi ekosistem di sekitarnya.

Dampak Negatif Pupuk Kimia Sintesis dan Pestisida
Penggunaan pupuk organik jauh lebih bagus untuk pertumbuhan tanaman cabe (Dok. Wahid Priyono,S.Pd.)

Pencemaran tanah juga bisa saja terjadi di daerah-daerah pertanian. Lahan/tanah pertanian yang terpapar senyawa kimia pestisida atau pupuk kimiawi juga bisa menurun daya resapnya terhadap air, kesuburan tanah menurun dari waktu ke waktu, struktur tanahnya menjadi rusak, tanah menjadi kering dan gersang, serta tanaman yang dibibitkan di atas sering kali gagal tumbuh. Oleh sebab itulah, sangat direkomendasikan bagi semua petani di Indonesia untuk terus mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi sintesis buatan pabrik. Gunakan pupuk organik dari kotoran ternak jauh lebih bagus untuk menjaga agar tanah tetap subur.

Sementara itu, pencemaran udara akibat penggunaan pestisida dengan cara disemprot adalah paling umum. Sering disaksikan petani yang meninggal dunia di areal penanaman karena efek toksik pestisida dalam dosis tinggi dan terhirup oleh seseorang sehingga senyawa kimia pestisida tersebut terakumulasi lalu mengendap di organ pernafasan (paru). Penggunaan pestisida dengan dosis tinggi serta pemaparan pada saluran nafas bisa menyebabkan orang meninggal mendadak di lokasi pertanian. Petani kadang kurang preventif melindungi dirinya dari paparan pestisida, misalnya tidak memakai masker sebagai penutup hidung dan rongga mulut.

Sebegitu banyak sekali dampak negatif pestisida dan pupuk-pupuk kimia buatan pabrik (pupuk sintesis) yang mampu menurunkan kualitas tanah, serta berdampak negatif bagi manusia, hewan maupun komponen ekosistem di sekitarnya. Jadi, bagi petani silakan dipertimbangkan saat penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) dan pestisida saat diaplikasikan di lapangan. Silakan baca juga: Konservasi Tanah Pertanian Sebagai Upaya Pencegahan Tanah dari Kerusakan.

PESAN SPONSOR