Alasan Mengapa Daun Cabai Sering Rontok, Kering, dan Berwarna Cokelat atau Kekuning-Kuningan

Morfologi daun setiap tanaman pasti berbeda, dan ini tentu sudah faktor bawaan (genetik). Daun mempunyai pigmen warna sendiri-sendiri, ada yang mempunyai pigmen hijau, bahkan pigmen merah, cokelat dan kuning. Namun, gejala yang paling umum di lapangan yaitu banyak daun yang mengalami penuaan secara cepat, sehingga morfologinya berubah drastis. Daun yang semula hijau bisa tiba-tiba menjadi berwarna kekuningan, cokelat, bahkan menggulung dan lalu rontok. Hal ini bisa terjadi akibat tanaman mengalami defisiensi (kekurangan) unsur hara tertentu, air yang minim, dan perawatan tanaman yang buruk.

Pada tanaman cabai, seringkali para petani bingung dan cemas terkait kondisi tanaman cabainya. Mereka melihat bahwa, banyaknya diantara daun tanaman cabai yang mereka tanam mengalami gejala klorosis dan nekrosis. Dua gejala ini pasti pernah dialami bagi sebagian tanaman yang dibudidaya, termasuk pada cabai. Akibat fatal dari nekrosis dan klorosis yaitu daun yang semula hijau akan menjadi kuning, kecokelatan, menggulung/keriting, kering dan lalu rontok. Rontoknya daun ini akibat dari sel-sel/jaringan di sekitar daun mengalami kerusakan/penuaan secara cepat. Bahkan, kerontokan bisa terjadi secara masif jika tidak segera ditangani.

Tanaman cabai terserang hama thrips
Tanaman cabai terserang hama thrips dan daunnya mengalami klorosis sehingga pertumbuhannya menjadi kerdil, (Wahid Priyono, S.Pd.)

Untuk mencegah dan menangani gejala daun cabai rontok, dapat ditempuh dengan beberapa cara berikut ini:

  • Lakukan penyiraman pada tanaman secara rutin dan terjadwal. Penyiraman sebaiknya dilakukan secara kondisional, artinya dilakukan jika memang tanahnya benar-benar kering/kurang air;
  • Gunakan pupuk yang banyak mengandung unsur Nitrogen (N) dan Magnesium (Mg). Unsur N dan Mg sangat dibutuhkan tanaman untuk pembentukan enzim dan hormon, sintesis protein, membantu memberi pigmen hijau pada klorofil. Kekurangan unsur N maka tanaman akan menjadi lebih cepat rontok dan daunnya pudar (mengindikasikan gejala klorosis dan nekrosis parah). Untuk memperoleh unsur N dan Mg, maka petani bisa membeli pupuk yang kaya akan unsur N dan Mg seperti NPK mutiara, urea, KCL, TSP, dan lain sebagainya;
  • Lakukan pendangiran dan penyiangan pada tanaman cabai secara terjadwal. Jangan pernah melewatkan jadwal ini karena penting untuk meningkatkan visibilitas tanaman agar tumbuh dan berkembang secara optimal;
  • Cegah hama dan penyakit agar tidak merusak bagian daun dan batang atau buahnya. Gunakan petisida alami maupun pestisida pabrik untuk memberantas hama dan penyakit;
  • Gunakan pupuk daun dan pupuk hayati dari sisa/limbah kulit pisang, atau dari POC MOL gedebok pisang.

Dengan mengikuti kaidah dan tatacara di atas, maka seharusnya tanaman cabai yang ditanam tidak lagi mengalami gejala klorosis dan nekrosis. Selamat mencoba, semoga berhasil dan sukses. Salam bertani cabai.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PESAN SPONSOR