Manfaat Beauveria bassiana, Rhizobium sp, dan Bacillus sp dalam Bidang Pertanian

Beauveria bassiana merupakan jamur/cendawan/kapang yang ditemukan oleh Agostino Bassi pada akhir abad ke-19 ketika menyelidiki penyebab kematian jutaan ulat sutera. Kemudian digunakan sebagai insektisida karena ada 175 jenis serangga yang bisa terinfeksi. Antara lain serangga jenis wereng, walang/belalang, walang sangit, ulat, semut merah, lembing dan sundep beluk atau penggerek batang.

Komunitas jamur Beauveria bassiana secara alami ada di dalam tanah, pertumbuhannya tergantung kandungan zat organik, pestisida sintetis, suhu dsb. Cendawan ini akan menginfeksi serangga inang dimulai dengan kontak, masuk ke tubuh, reproduksi di jaringan inang dan kontak atau menginfeksi serangga lain. Serangga yang terinfeksi akan segera kehilangan nafsu makan dan mati dalam 4-8 hari. Sebelum dan sesudah mati akan menularkan ke serangga lain di dekatnya. Serangga yang mati menjadi kaku seperti mummi dan tubuhnya diselimuti jamur putih. Khususnya di daerah sambungan seperti tungkai, antara dada dan perut.

Beauveria bassiana sebagai agen hayati pengendali hama serangga patogen pada tanaman (sumber gambar:https://bcfocus.com/)

Salah satu jenis bakteri yang sangat baik bagi tanaman pertanian yakni bakteri Rhizobium leguminosarum. Bakteri ini tergolong kelompok bakteri baik dan memberi nilai tambah (value) dalam bidang bioteknologi pertanian di Indonesia.

Bakteri Rhizobium leguminosarum mampu bersimbiosis dengan bintil akar tanaman leguminoceae (suku dari kacang-kacangan/polong-polongan), sehingga keberadaannya sangat penting sekali serta mampu menyuburkan tanah pertanian, juga penting dalam hal pemfiksasi Nitrogen (N-bebas) yang ada di udara. Selain itu, bakteri Rhizobium sp ini berperan penting dalam daur Nitrogen di alam, yang juga mendorong dalam mengubah senyawa kimia Nitrit menjadi Nitrat yang akan dibebaskan kembali ke atmosfer (atm). Maka dari itulah, dalam kegiatan pertanian jangan pernah meninggalkan kegiatan pertanian monokultur, salah satunya yakni bertanam dengan teknik rotasi tanam.

Rotasi tanam sendiri merupakan serangkaian aktivitas pertanian dengan cara melakukan pergiliran (penjadwalan waktu tanam) pada bulan-bulan tertentu. Selain itu, pengaturan jenis tanaman selama satu tahun selalu diisi dengan tanaman-tanaman bervariasi, sebagai contoh palawija-singkong-kacang tanah-semangka-dan seterusnya. (Pada bintil akar tanaman kacang tanah terdapat bakteri baik yaitu Rhizobium leguminosarum).

Rotasi tanam sangat baik diterapkan dalam dunia pertanian, sebab dapat mampu mengembalikan fungsi tanah agar berada pada kondisi yang tidak stress, selalu mendapatkan nutrisi berbeda setiap kali waktu tanam dari berbagai jenis tanaman yang berbeda. Adapun beberapa fungsi/peranan/ serta keuntungan (manfaat) adanya bakteri Rhizobium leguminosarum yang ada pada akar tanaman kacang-kacangan yakni:

  • Dapat menyuburkan lahan pertanian, karena bakteri Rhizobium leguminosarum berperan penting dalam daur Nitrogen di alam;
  • Dapat menyuburkan tanaman dan pepohonan buah maupun sayur mayur;
  • Pada saat rotasi tanam, maka sebaiknya petani sesekali mencoba untuk menanam tanaman kacang-kacangan, baik itu bisa kacang panjang, kacang kedelai, kacang tanah, dan jenis famili kacang lainnya, sehingga keberadaan bakteri pemfiksasi N-bebas ini akan terus aktif, sehingga dapat meningkatkan kesuburan lahan pertanian;
  • Bakteri R. leguminosarum ini disebut-sebut oleh beberapa petani sebagai bakteri perintis, yakni aktivitas kimiawi dan mekanisnya dapat membuat gembur lahan pertanian, sehingga sangat mudah diolah;
  • Kelembaban tanah, temperatur, drainase, serta tingkat keasaman (pH) tanah akan terjaga secara optimal, sehingga kesiapan tanaman yang akan datang untuk ditanam akan semakin baik saat akan beradaptasi dengan lingkungan barunya;
  • Pada beberapa biji tanaman yang ditanam/disemai bekas tanah yang ditanam kacang-kacangan, maka biasanya biji tersebut akan mudah berkecambah dan tumbuh secara baik hingga dewasa dan panen nantinya;
  • Bakteri Rhizobium leguminosarum juga dapat membantu dalam menjaga tingkat kesuburan tanah melalui penjagaan unsur hara yang terkandung di dalam tanah;

Selain itu, beberapa peneliti percaya bahwa adanya bakteri Rhizobium sp ini tentu saja dapat membantu dalam proses pembusukan sisa unsur hara di dalam tanah sebelum diserap oleh jaringan pembuluh xilem di dalam akar tanaman.

Selain bakteri Rhizobium sp, juga kita mengenal agen hayati yaitu bakteri Bacillus sp. Bakteri Bacillus sp ini merupakan salah satu kelompok bakteri gram positif yang sering digunakan sebagai pengendali hayati penyakit akar pada tanaman pertanian. Anggota genus ini memiliki kelebihan, sebab bakteri ini mampu membentuk spora yang mudah disimpan, mempunyai daya tahan hidup lama, dan relatif mudah diinokulasi ke dalam tanah.

Bacillus sp. telah terbukti memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati yang baik, misalnya terhadap bakteri patogen seperti R. solanacearum (Soesanto, 2008). Bacillus sp. dapat menghasilkan fitohormon yang berpotensi untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan. Fitohormon yang dihasilkan bakteri tanah ini dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung fitohormon dari bakteri menghambat aktivitas patogen pada tanaman, sedangkan pengaruh secara langsung fitohormon tersebut adalah meningkatkan petumbuhan tanaman dan dapat bertindak sebagai fasilitator dalam penyerapan beberapa unsur hara dari lingkungan (Greenlite, 2009).

Bakteri Bacillus subtilis (sumber: pinterest.com)

Beberapa spesies Bacillus sp. yang menghasilkan antibiotik dapat digunakan sebagai agen hayati. Jenis antibiotik yang dihasilkan tersebut antara lain berupa iturin, surfactin, fengicin, polymyxin, difficidin, subtilin, dan mycobacilin (Todar, 2005).

Adapun untuk fungsi/peranan/manfaat bakteri Bacillus sp. (seperti misalnya bakteri Bacillus subtillis) antara lain dapat mengendalikan penyakit layu bakteri pada kentang dan meningkatkan hasil umbi kentang sampai 160%. Bacillus sp. ini ternyata dapat mengendalikan penyakit lincat pada tembakau dan penyakit layu bakteri pada biji tomat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tanaman tembakau. Menurut Baker et al dalam Hasanuddin (2003) menyatakan manakala filtrasi steril dari kultur Bacillus subtilis diaplikasikan tiga kali seminggu dapat mengendalikan penyakit karat pada tanaman kacang, karena di lapangan nyatanya lebih baik dari fungisida mancozeb dengan aplikasi satu kali seminggu. (Sumber Referensi Tambahan: http://tanamanpangan.pertanian.go.id/)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PESAN SPONSOR