Solusi untuk Tanah yang Tidak Subur dengan Bertanam Secara Bergilir

Sistem bertanam secara bergilir merupakan solusi untuk menangani tanah yang tidak subur. Kebanyakan tipe tanah yang tidak subur dikarenakan oleh beberapa faktor seperti kadar hara dan humus di dalamnya, atau penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan. Sebab, penggunaan pupuk kimia sintetik dan pestisida berlebih akan membuat tanah semakin mengeras, gersang, dan mengurangi aktivitas mikroorganisme tanah. Mikroorganisme tanah misalnya adalah cacing tanah sebagai biodegradasi sampah dedaunan untuk menjadi kompos hayati yang diperlukan oleh tanaman itu sendiri.

Sistem pertanian secara bergilir atau biasanya disebut sebagai “rotasi tanam” sudah sejak lama terkenal di Indonesia. Sistem ini mengharuskan secara periodik/berkala untuk mengganti jenis-jenis tanaman berbeda dalam tiap musimnya. Sebagai contoh, misalnya pada bulan Januari – Februari suatu lahan ditanami kacang kedelai, maka pada bulan berikutnya ditanami singkong, atau jenis palawija selama 12 bulan penuh. Dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman berbeda dalam tiap musim, tentu saja akan membantu dalam menyuburkan lahan tanam (tanahnya).

Tanaman Cabe Mulai Berbunga karena Terbebas Dari Gulma
Tanaman Cabe Mulai Berbunga dan Tanahnya Subur (Wahid Priyono, S.Pd.)

Selanjutnya, hal yang paling terpenting untuk menyuburkan tanah yang gersang/tidak subur, maka sesekali dalam waktu tertentu menanam jenis tanaman kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kedelai, kapri, kacang hijau, dll. Sebab, pada tanaman kacang-kacangan banyak sekali pada bintil akarnya terdapat bakteri Rhizobium leguminosarum. Bakteri tersebut membantu dalam penyuburan tanah pertanian dan sekaligus sebagai pemfiksasi nitrogen bebas di udara. Selain itu, penggunaan pupuk kompos, pupuk kandang, dan pupuk hayati hasil fermentasi juga sangat penting untuk meremajakan kembali tanah yang tidak subur/tandus. Semoga bermanfaat.

PESAN SPONSOR