Perbedaan Nyata Sistem Pertanian Modern dan Konvensional

Industri pertanian yang terjadi di negara maju dengan negara berkembang sangatlah berbeda. Hal ini terletak dari alat-alat pertanian yang digunakan, serta metode/teknik yang mereka kembangkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Di negara maju, alat-alat pertanian sudah canggih (modern), serta teknik yang dikembangkan lebih maju, misalnya saja teknik kultur jaringan dan pembudidayaan tanaman pangan, sayur dan buah secara organik bebas pestisida, tumbuhan transgenik hasil rekayasa genetika di dunia pertanian, dan masih banyak lagi pemanfaatan gen rekombinan DNA untuk mewariskan antara tumbuhan satu spesies yang lebih beragam. Pertanian jenis ini sudah diterapkan di negara maju di beberapa negara di benua Afrika, Eropa, dan Amerika.

Sementara itu, sistem pertanian di negara berkembang, misalnya Indonesia dan sebagian negara di kawasan Asia Tenggara, Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia, maka sistem pertaniannya masih didominasi sistem pertanian manual (konvensional), sehingga hasil pertanian kurang maksimal (hasil panennya). Ciri dari pertanian konvensional yaitu alat-alat yang dipakai masih sederhana (misalnya masih memakai cangkul untuk mengolah lahan, masih menggunakan hewan kerbau dan sapi untuk membantu membajak lahan pertanian). Selain itu, tanaman yang dibudidaya lebih didominasi tanaman musiman dalam setahun, masih menggunakan pupuk anorganik dan pestisida secara bebas yang sebenarnya ini bisa mengganggu kesehatan manusia dan memberi dampak terhadap pencemaran lingkungan.

Namun, dari kedua perbedaan dari sistem pertanian modern dan pertanian konvensional/biasa, pastilah memiliki keuntungan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, sebagai seorang petani sebisa mungkin untuk terus melakukan revolusi pertanian dengan menggunakan teknik modern maupun konvensional, sehingga pengalaman demi penegalaman dalam membudidaya tanaman pertanian akan semakin bagus.

PESAN SPONSOR