Hubungan Hormon Tanaman (Fitohormon) Terhadap Dormansi

Dalam dormansi, sebenarnya harus ada penghalang internal terhadap pertumbuhan yang dicegah meskipun kondisi – kondisi eksternal menguntungkan. Misalnya saja dalam bentuk zat – zat pertumbuhan, Pertumbuhan mungkin dicegah karena kekurangan zat – zat penghambat yang aktif.

Salah satu hormon yang berperan dalam dormansi adalah ABA (Asam absisat). ABA mempunyai 3 efek utama yang ditentukan oleh jaringan yang terlibat, yaitu memberikan efek pada membrane plasma sel akar, menghambat sintesis protein, dan mengaktifkan serta menonaktifkan gen tertentu secara khas.

Efeknya pada membran sel akar adalah membuat membrane itu bermuatan lebih positif. Efek ini berperan dalam proses hilangnya ion K secara cepat pada sel penjaga ( yang melibatkan penghambatan ATPase membrane plasma) dan dalam kemampuan ABA untuk menghambat dengan cepat pertumbuhan yang diinduksi auksin. Keterlibatannya dalam sintesis protein dan enzim lain berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk perananya dalam dormansi.

Hormon Asam Absisat (ABA) yang dihasilkan pada tunas terminal, akan memperlambat pertumbuhan dan mengarahkan primordial daun untuk berkembang menjadi sisik yang akan melindungi tunas yang dorman selagi musim dingin. Hormone tersebut juga menghambat pembelahan sel cambium pembuluh. Dengan demikian ABA mempersiapkan tumbuhan untuk menghadapi musim dingin dengan cara menghentikan pertumbuhan primer dan sekunder.

Hubungan Hormon Tanaman (Fitohormon) Terhadap Dormansi
Hubungan Hormon Tanaman (Fitohormon) Terhadap Dormansi

Tahapan lain dalam kehidupan suatu tumbuhan yang menguntungkan apabila pertumbuhan dihentikan adalah pada saat permulaan dormansi biji. Biji akan berkecambah jika ABA dihambat dengan cara membuatnya tidak aktif, atau dengan membuangnya, atau melalui peningkatan aktivitas giberelin.

Biji beberapa tumbuhan gurun mengakhiri dormansinya ketika hujan lebat melunturkan ABA dari biji. Biji tumbuhan lain memerlukan cahaya atau stimulus lain untuk memicu perombakan asam absisat.

Asam absisat memiliki struktur yang mirip dengan giberelin namun bekerja berlawanan dengan giberelin. Giberelin memiliki fungsi merangsang proses pemanjangan, juga terlibat dalam perkecambahan biji dan menghilangkan dormansi. Giberelin mengatasi dormansi biji dan kuncup. Pada biji mendorong pemanjangan sel, sehingga radikula dapat mendobrak endosperm, kulit biji, atau kulit buah yang membatasi pertumbuhannya. Giberelin juga mamacu pengangkutan makanan dan unsur mineral dalam sel penyimpan pada biji, dengan cara memacu sel aleuron untuk membuat enzim hidrolitik dan mendorong sekresi enzim tersebut ke endosperm, tempat enzim tersebut mencerna cadangan makanan dan dinding sel sehingga unsur mineral cadangan menjadi lebih mudah tersedia, kemudian menghentikan dormansi.

Giberelin bekerjasama dengan sitokinin dalam pembentukan enzim amilase pada perkecambahan biji, yang berfungsi dalam hidrolisis pati sebagai energi untuk pembentukan dinding sel dan membuat potensial air lebih negative, dan imbibisi akan lebih cepat dan mengakhiri dormansi.

Hormon lain pada tumbuhan yang berpengaruh terhadap dorrmansi adalah auksin. Pada daerah pemanjangan suatu tunas, auksin merangsang pompa proton, yaitu suatu tindakan yang menurunkan pH pada dinding sel. Pengasaman dinding ini mengaktifkan enzim – enzim yang memecahkan ikatan silang (ikatan hydrogen) yang terdapat pada mikrofbril – mikrofibril selulosa, sehingga melonggarkan serat – serat dinding sel. Karena dindingnya lebih plastis, sel bebas mengambil tambahan air (imbibisi) melalui osmosis, sehingga menyebabkan dormansi terhenti dan terjadi pemanjangan. Untuk bisa tumbuh terus, sel – sel harus membuat lebih banyak sitoplasma dan bahan – bahan dinding. Auksin juga mereangsang respon pertumbuhan berkelanjutan ini.

SUMBER REFERENSI BACAAN:

Campbell,dkk. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2.Jakarta.Erlangga

Hasniunidah, Neni. 2011. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan.Bandar Lampung. Universitas Lampung

Salysburry, F.B and C.W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3.Bandung. Institut Teknologi Bandung (ITB).

Soerodikromo, Wibisono. 1993. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Universitas Terbuka

Wilkins, M. B. 1989. Fisiologi Tanaman. Jakarta: PT. Bina Aksara.

Marufah. Pertanian. http://marufah.blog.uns.ac.id/pertanian/

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *