Dormansi Kuncup Pada Tumbuhan

Bentuk dormansi pada biji dan kuncup hampir sama. Namun, fungsi dormansi ini tidak hanya untuk menghilangkan hambatan untuk membentuk kuncup, melainkan juga untuk mempertahankan tubuh tumbuhan dari suhu ekstrim. Berdasarkan jenis tumbuhan, kebanyakan tumbuhan mengalami dormansi yang dilakukan pada suhu rendah. Sebaliknya, pada tumbuhan meranggas dormansi dilakukan pada suhu tinggi.

Pada tumbuhan yang mengalami dormansi pada suhu rendah, pembentukan kuncup berhenti menjelang musim dingin yang menandakan mulai terjadinya dormansi. Dormansi dilakukan tumbuhan di musim dingin untuk menghemat energi. Pada musim dingin, fotosintesis berjalan dengan lambat. Kandungan klorofil merupakan salah satu faktor dalam yang mempengaruhi laju fotosintesis. Pigmen ini berperan langsung dalam menangkap energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimia. Kandungan klorofil yang sedikit akan memperlambat laju fotosintesis.  Suhu yang rendah juga menyebabkan enzim-enzim yang berperan dalam fotosintesis tidak bekerja dengan baik (bahkan in active) karena enzim bekerja dengan baik pada suhu optimum. Fotosintesis yang berjalan lambat mengakibatkan tumbuhan tidak bisa memproduksi makanan (karbohidrat) secara maksimal. Oleh karena itu, pada musim dingin (suhu rendah) akan terjadi dormansi yang ditandai dengan perubahan warna daun. Perubahan warna daun disebabkan oleh perombakan klorofil untuk dijadikan sumber makanan (energi) sehingga pigmen selain klorofil berkembang baik karotenoid atau antosianin.

Daun-daun pada masa dormansi ini akan berguguran (absisi) karena dinding sel rapuh akibat cadangan karbohidrat yang terbatas. Kita ketahui bahwa komponen pembentukan dinding sel salah satunya yaitu karbohidrat. Kembali lagi bahwa fotosintesis yang terhambat menyebabkan terbentuknya karbohidrat menjadi terhambat juga. Selain itu, komponen dinding sel yaitu protein juga terbatas. Asam absisat menghambat sintesis protein yang berperan dalam pembentukan dinding sel. Adanya hormon asam absisat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan berjalan lambat  dalam semua segi termasuk dalam pembelahan sel. Dengan kata lain, dormansi yang diinduksi oleh hormon asam absisat juga menyebabkan penguguran daun.

Dormansi kuncup
Dormansi kuncup pada tumbuhan

Respirasi pada saat dormansi terus berjalan (respirasi meningkat sampai batas tertentu untuk menyeimbangkan suhu tubuh dengan suhu lingkungan). Kecepatan respirasi dibatasi oleh perubahan struktur enzim karena suhu yang sangat rendah. Penambahan hormon giberelin dapat mengakhiri dormansi dan menyebabkan pembungaan pada tumbuhan yang berdormansi pada suhu rendah.

Pada tumbuhan meranggas terjadi dormansi karena respon terhadap panjang hari. Panjang hari yang dimaksud yaitu hari dengan suhu yang tinggi (panas) lebih panjang dibandingkan suhu yang rendah. Dormansi dilakukan pada suhu yang tinggi dengan cara menghambat pemanjangan ruas dan pembesaran daun, bahkan hingga menggugurkan daun juga (sama seperti tumbuhan yang berdormansi pada musim dingin). Kita ketahui bahwa pada suhu yang tinggi, penguapan air akan jauh lebih cepat. Suhu yang tinggi akan menyebabkan kelembaban tanah semakin rendah. Intinya, semakin banyak daun yang ada pada tumbuhan tersebut maka potensi untuk kehilangan air pun akan semakin besar.

Pada dormansi yang dilakukan tumbuhan meranggas ini, hormon asam absisat juga membantu tumbuhan menghadapi kondisi ini. Hormon asam absisat akan terakumulasi di daun dan menyebabkan stomata menutup, mengurangi transpirasi, dan mencegah kehilangan air lebih banyak. Hormon asam absisat (ABA) juga menginduksi penutupan stomata. Penjelasannya yaitu transpirasi mengakibatkan perubahan nilai potensial osmotik sel. Jika mesofil kekurangan air, maka mesofil akan mensintesis hormon asam absisat (ABA). Dengan adanya ABA di mesofil, mesofil memberi sel lain hormon asam absisat, maka tekanan osmotik turun  stomata mengkerut dan sel penjaga membuka. Stomata yang tertutup ini menghambat pengambilan karbondioksida dan oksigen dari udara yang berpengaruh pada respirasi dan fotosintesis tumbuhan. Otomatis, kerja sel yang lain akan diperlambat, salah satunya yaitu pembentukan dinding sel  sehingga terjadilah penguguran daun.

Selain itu, hormon asam absisat berpengaruh untuk menghambat pemanjangan ruas, pembesaran daun, hingga menghambat metabolisme tumbuhan dalam berfotosintesis dan berespirasi. Pada dormansi jenis ini juga terbentuk kuncup dorman yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kekeringan air juga membatasi gerak oksigen ke meristem yang akan digunakan untuk berespirasi. Jadi, menutupnya stomata, membentuk kuncup dorman, membatasi ukuran daun hingga menggugurkan daun ini dilakukan untuk mencegah hilangnya air (beserta hara mineral) yang banyak pada tumbuhan. Tumbuhan yang kekurangan air pasti kekurangan hara mineral. Kurangnya hara mineral (terutama unsur nitrogen) pada tumbuhan menyebabkan terjadinya klorosis diikuti dengan gugurnya daun.

Kegiatan respirasi lambat pada tumbuhan yang berada pada suhu tinggi karena masuknya oksigen ke dalam sel tidak cepat (suhu tinggi, konsentrasi oksigen menurun). Kemudian,  keluarnya karbondioksida juga tidak cepat sehingga banyak tertimbun di dalam sel dan menghambat respirasi. Selain itu, pada suhu tinggi substrat respirasi yang tersedia (yaitu daun) menurun (karena banyak daun yang gugur) sehingga substrat respirasi menjadi faktor pembatas diikuti dengan denaturasi enzim sehingga terhambatlah proses respirasi. Pengurangan di dalam respirasi  akan melambatkan pertumbuhan.

Sedangkan, fotosintesis tetap berlangsung namun dibatasi. Fotosintesis dibatasi agar cadangan air tidak cepat habis. Selain itu, faktor dalam yang mempengaruhi fotosintesis salah satunya yaitu akumulasi hasil fotosintesis. Apabila pengangkutan hasil fotosintesis terhambat (karena keterbatasan air sebagai alat angkut) akan terjadi penimbunan glukosa dalam kloroplas, sehingga menghambat laju fotosintesis dan otomatis akan membatasi terjadinya fotosintesis. Enzim-enzim yang mendukung fotosintesis pun bisa mengalami kerusakan (denaturasi) akibat suhu yang tinggi yang berpengaruh pada terhambatnya fotosintesis. Dormansi pada suhu tinggi dapat diakhiri dengan memberi suhu rendah terhadap tumbuhan tersebut dan dengan memberikan senyawa tertentu (misalnya 2-kloroetanol). Seperti halnya tumbuhan yang berdormansi pada suhu rendah, tumbuhan yang berdormansi pada suhu tinggi pun bisa diakhiri masa dormansinya dengan memberikan hormon giberelin. Hormon giberelin dapat memacu penguraian bahan organik cadangan pada kuncup dorman yang tumbuh kembali.

SUMBER REFERENSI BACAAN:

Campbell. 2002. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Fitter & Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada        University Press

Kimball, J.W. 1983. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Wilkins. Fisiologi Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Hasnunidah, Neni. 2011. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Bandarlampung: FKIP        Universitas Lampung

Hasnunidah, Neni. 2009. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.         Bandarlampung: FKIP Universitas Lampung.

Salisbury & Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Bandung: Penerbit ITB

Kusuma, Chandra. Kamus Lengkap Biologi. Surabaya: Fajar Mulya

Soerodikoesomo, Wibisono. 1993. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:          Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan     Dasar dan Menengah.

PESAN SPONSOR