Perawatan Pisang: Penyiangan, Penggemburan Tanah, Pembumbunan, Pemupukan, dan Pemberian Air

Penyiangan dan Penggemburan Lahan (Pendangiran)

Tanah di sekitar pohon pisang harus dibersihkan dari rumput pengganggu/gulma, sekaligus digemburkan dengan menggunakan cangkul kecil (koret). Penggemburan tanah tidak boleh terlalu dalam karena perakaran pisang itu dangkal. Pekerjaan ini dilakukan sesuai kondisi kebun. Kebun yang banyak sekali ditumbuhi gulma harus sering disiang, sekitar 3 – 4 kali setahun. Bila gulma tidak terlalu banyak, yang perlu adalah penggemburan tanah agar perakaran dan bonggol pisang bisa berkembang dengan baik. Penyiangan bagi tanah bukaan baru yang masih banyak ditumbuhi alang-alang atau rumput liar dapat dilakukan dengan herbisida. Herbisida yang dapat digunakan misalnya DMA G, Totacol, Paracol, Herbisol.

Pembumbunan dan Pemupukan

Pembumbunan perlu dilaksanakan bisa umbi pisang muncul ke permukaan tanah. Demikian juga pada waktu tanaman pisang menghasilkan rumpun (beranak). Hal ini dimaksudkan agar perakaran bisa berkembang lebih baik, sekaligus memperkuat pertumbuhan akaran bisa berkembang lebih baik, sekaligus memperkuat pertumbuhan tanaman pisang.

Pohon Pisang Sehat dan Subur
Pohon Pisang Sehat dan Subur, Photo Original by: Wahid Priyono

Pemupukan mutlak diberikan agar tanaman tumbuh subur dan produktif. Pupuk yang diberikan meliputi Nitrogen, Fosfor, dan Kalium. Unsur Nitrogen berfungsi membuat daun hijau segar mempercepat pertumbuhan vegetatif juga menambah kandungan protein pada buah. Unsur Fosfor diperlukan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, sehingga dapat lebih banyak mengambil unsur hara dari dalam tanah. Selain itu, tanaman tidak mudah roboh, mempercepat pembentukan bunga, merangsang pertumbuhan, dan menambah ketahanan tanaman dari serangan hama penyakit. Sedangkan Kalium berfungsi memperkuat batang tanaman, membantu proses fotosintesis dan meningkatkan kualitas buah serta menambah ketahanan tanaman.

Pupuk yang diberikan berupa pupuk anorganik dan pupuk organik. Pupuk anorganik berupa 1.000 gram ZA per pohon/tahun, 450 gram TSP per pohon/tahun, dan 500 gram KCl per pohon/tahun. Pupuk anorganik diberikan empat kali setahun, yaitu satu bulan setelah tanam dengan dosis ¼ bagian, lalu diulangi lagi setiap tiga bulan dengan dosis masing-masing ¼ bagian. Caranya, pupuk anorganik diberikan secara merata pada parit berjarak 60 – 75 cm di sekeliling tanaman, setelah itu parit dibumbun. Sedangkan pupuk organik berupa pupuk kandang diberikan 2 – 3 kaleng minyak tanah per rumpun/tahun. Pupuk itu diberikan tiap tahun dimulai 1 bulan dan diulangi tiap tiga bulan masing-masing ¼ bagian.

Pemberian Air

Perakaran tanaman pisang dangkal, dekat permukaan tanah. Namun, tanaman ini tahan terhadap kekeringan atau kekurangan air karena perakarannya banyak mengandung air. Walau demikian, bila tandan buah keluar saat musim kemarau, tandanya pendek dan kecil-kecil. Dari kenyataan ini para ahli mencoba mengairi tanaman pisang pada waktu musim kemarau. Ternyata tandan buahnya jadi panjang dan buahnya juga besar-besar. Oleh karena itu, pemberian air pada waktu musim kemarau perlu sekali dilakukan, terutama bila tanaman akan berbuah dan berbunga. Dalam pemberian air tentunya melihat kondisi tanah yang akan diairi. Bila tampak sudah kering segera dilaksanakan pengairan. Sebagai ancar-ancar, di musim kemarau kebun pisang perlu diairi minimal sebulan sekali agar kelembaban tanahnya terjaga.

Daftar Pustaka:

Satuhu, Suyanti dan Supriyadi, Ahmad. 2005. Pisang, Budidaya Pengolahan dan Prospek Pasar. Jakarta: Penebar Swadaya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *