Cara Budidaya KAKAO di Kebun Agar Cepat Berbuah Lebat

Tanaman KAKAO dengan nama ilmiah Theobroma cacao L. sangat banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi setiap daerah tidak selalu cocok ditanami tanaman ini mengingat banyak sekali faktor syarat tumbuh tanaman kakao. Habitat tanaman kakao yaitu hutan beriklim tropis yang banyak naungan (shade loving plant). Tanaman kakao dapat tumbuh baik pada ketinggian otimum lahan dari 1-600 mdpl, serta ketinggian lahan maksimum yakni 1.200 mdpl.

Cara Budidaya Kakao Agar Berbuah Lebat
Cara Budidaya Kakao Agar Berbuah Lebat

Tanaman kakao seperti yang banyak diketahui masyarakat luas banyak mempunyai segudang manfaat yakni dapat dijadikan bahan baku pembuatan wafer, cokelat, agar-agar, bubuk skim cokelat, dapat ditambahkan pada biji kopi robusta atau kopi arabika untuk industri coffe, dan banyak lainnya. Buahnya yang sudah matang juga dapat dinikmati secara langsung karena daging buahnya terasa sangat manis.Tanaman kakao juga dapat hidup pada lahan yang cukup air (tanah gembur dan mempunyai ketercukupan air). Jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman kakao yaitu lempung liat berpasir, tanah gembur yang banyak mengandung unsur hara penting demi menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, faktor curah hujan sangat penting untuk menanam kakao. Curah hujan yang dianjurkan yakni kisaran 1.500 – 2.500 mm/tahun. Temperatur maksimum 300-320 derajat celcius, temperatur minimum yakni 180 – 210 derajat celcius, dan temperatur optimumnya yakni 26 derajat celcius. Ketercukupan sinar matahari sangat penting untuk tanaman kakao yang ditanam di kebun. Intensitas cahaya matahari 75% untuk tanaman kakao dewasa, 50% tanaman muda, dan 25% untuk tingkat intensitas cahaya pada tanaman kakao bibit. Sementara itu, untuk tingkat kelembaban udara yakni 80-90 %.

Sentra dan tempat pembudidayaan tanaman kakao banyak dilakukan di daerah-daerah pegunungan di Indonesia. Provinsi Lampung adalah sentra pembudidayaan tanaman kakao yang sangat besar. Jika Anda bermain ke provinsi Lampung, di setiap ruas jalan dari daerah perbukitan Kalianda – Bandarlampung – Pesawaran – Pringsewu – Liwa, pasti Anda akan menyaksikan ratusan bahkan ribuan pohon kakao ini tumbuh dengan baik di daerah tersebut. Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi dan sepanjang pulau Sumatera banyak dijumpai adanya tanaman kakao baik yang ada dipinggiran jalan lintas sumatera, di daerah pegunungan maupun perbukitannya. Menarik sekali jika Anda sekali-kali berkunjung ke petani kakao dan bagaimana mereka membudidayakan kakao serta bagaimana proses pengeringan biji kakao hingga siap jual.

Beberapa jenis varietas tanaman kakao yang banyak dibudidaya oleh masyarakat provinsi Lampung diantaranya, Criolo, Forastero, kultivar Lower Amazone Hybrid (LAH), Upper Amazone  Hybrid (UAH), dan masih banyak jenis lainnya.

Cara Menanam KAKAO di Kebun Agar Cepat Berbuah Lebat

Untuk memperoleh hasil panen kakao yang melimpah serta memiliki pohon yang berbuah lebat, maka teknik penanaman yang benar penting dilakukan. Karena bagaimanapun juga banyak sedikitnya hasil panen sangat dipengaruhi oleh faktor perawatan tanaman mulai dari proses tanam awal (pembenihan) sampai pada tahap dewasa dan pemanenan. Oleh sebab itu, mari kita simak bersama bagaimana cara menanam kakao di kebun agar cepat berbuah seperti pengalaman yang pernah saya lakukan di kebun milik saya sendiri.

1. Pemilihan Bibit Kakao yang Unggul

Pemilihan bibit kakao yang unggul sangat penting. Bibit kakao sebaiknya dapat dibeli langsung dari para petani kakao yang sudah berpengalaman. Ciri bibit kakao yang unggul yakni terbebas dari penyakit, memiliki benih atau bibit yang sehat tidak dimakan tungau (jika pembibitan melalui biji), mempunyai akar, batang, serta daun yang nampak segar dan tidak cacat. Untuk memperoleh bibit kakao dapat diperoleh dari hasil penyemaian biji kakao, atau dapat melakukan perkembangbiakan tanaman secara vegetatif yakni seperti cangkok batang, stek batang, proses penyilangan (menempel). Setelah bibit disiapkan, mari ikuti langkah selanjutnya. Jika proses penanaman kakao dilakukan dari biji, maka dapat dilakukan perkecambahan biji terlebih dahulu di dalam kantong polibek. Biasanya perkecambahan biji kakao dapat tumbuh selama 1-30 hari dengan intensitas perawatan yang teratur. Pemberian air (penyiaram) adalah tahapan sangat penting untuk menjaga agar tekstur tanah tetap lembab sehingga mempercepat laju perkecambahan biji. Selanjutnya jika bibit kakao sudah siap tanam, maka segera ditanam pada lokasi tanam yang tepat.

2. Pengolahan Tanah dan Pembuatan Lubang Tanam

Seperti yang telah dijelaskan di atas, tanah yang cocok untuk menanam kakao di kebun agar berbuah lebat yakni tanah yang gembur, memiliki banyak unsur hara, serta tanahnya jenis tanah liat lempung berpasir. Buatkan lubang tanam ukuran 50×50 cm (panjang x lebar). Serta ketinggian lubang tanam yakni 25-30 cm. Sebelum ditanam, sebaiknya di bagian dasar lubang tanam diberikan pupuk kandang yang sudah dicampur tanah dengan perbandingan 1:1 dan dapat ditambahkan pupuk TSP 1-3 gram per lubang tanamnya.

3. Menanam Bibit Kakao dan Pengajiran

Penanaman bibit kakao dapat dilakukan di area tempat ternaung atau secara tumpangsari di area penanaman tumbuhan lain. Jika bibit kakao diperoleh dari biji, maka proses penanamannya yaitu pertama kali melepas bibit tanam dari pot polybek secara perlahan dan usahakan tidak ada bagian akar yang tertinggal. Ambil bibit tanam dari polybek tersebut bersama dengan tanahnya, kemudian masukan bagian akarnya ke dadar lubang tanam, lalu timbun dengan tanah yang sudah dicampurkan pupuk kandang dan pupuk TSP tadi. Pastikan bagian tunas batang dan daun berada pada bagian permukaan tanah dan tidak tertutup tanah. Selanjutnya, apabila penanaman bibit kakao dilakukan melalui cara vegetatif seperti mencangkok, menyambung, stek batang dan lainnya, maka caranya yaitu mengubur bagian akar bibit vegetatif tersebut di dalam lubang tanam yang sudah disiapkan, kemudian timbun dengan tanah yang sudah dicampuri pupuk TSP dan pupuk kandang. Selanjutnya masing-masing lubang tanam yang sudah ditanami kako dibuatkan ajir yang terbuat dari bambu setinggi 80-100 cm agar tanaman dapat terlindungi dari hewan herbivora seperti sapi atau kambing. Kemudian terakhir yaitu tanah di sekitar lokasi penanaman bibit kakao disiram dengan air bersih rutin setiap pagi dan sore, serta pastikan bahwa tanah selalu lembab dan tidak kering.

4. Perawatan Dasar Bibit Kakao Hingga Dewasa

Budidaya Kakao yang Benar
Cara Budidaya Kakao
Perawatan/pemeliharaan dasar bibit tanaman kakao pada dasarnya sama dengan tanaman lainnya, yaitu meliputi penyiraman rutin selama proses tanam yaitu 1-2 kali dalam sehari, kemudian proses pemupukan yang dilakukan tiap 1 bulan sekali menggunakan pupuk kandang dan pupuk TSP atau Urea secara bergantian, yaitu dengan membuat lubang pupuk di sekitar tanaman kakao dengan cara di koak, caranya pupuk tersebut dimasukan ke dalam lubang pupuk lalu ditutup kembali. Selanjutnya, proses penyiangan tanaman kakao, yaitu memastikan bahwa tidak ada gulma (rumput liar) yang tumbuh di sekitar tanaman. Apabila terdapat rumput liar segera cabut hingga kebagian akar agar tidak menghambat pertumbuhan tanaman kakao. Untuk memperoleh tanaman kakao dengan buah yang sangat lebat/banyak, maka dapat dilakukan proses pemangkasan pada bagian ranting, atau sebagian batangnya. Pemangkasan ditunjukan untuk pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pemangkasan ada beberapa macam yaitu;
  • Pangkas Bentuk, yakni dilakukan saat pohon kakao berumur satu tahun setelah munculnya cabang primer (jorquet) atau sampai dengan umur tanam 2 tahun dengan meninggalkan tiga cabang primer yang baik dan letaknya simetris;
  • Pangkas Pemeliharaan, yakni bertujuan untuk mengurangi pertumbuhan vegetatif tanaman yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya;
  • Pangkas Produksi, yakni betujuan agar sinar matahari dapat masuk dan mengenai seluruh  atau sebagian tanaman sehingga proses pembungaan kakao lebih efektif yang terbentuk. Pangkas jenis produksi tergantung keadaan dan musim. Sehingga ada juga isitilah pangkas ringan dilakukan saat musim kemarau, dan pangkas berat dilakukan pada musim hujan;
  • Pangkas Restorasi, yakni memotong bagian ranting atau percabangan batang, daun yang telah rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding.

5. Proses Pemanenan dan Pemasaran Buah Kakao

Buah Kakao atau cokelat di Indonesia
Gambar original oleh: guruilmuan.blogspot.com

Buah kakao siap dipanen umumnya memiliki buah matang dengan ciri: Kulit buah sudah berwarna kuning orange atau jika dari varietas kakao merah, maka kulit buah sudah terlalu berwarna merah tua, tangkainya sudah agak berwarna cokelat dan siap petik. Kakao dapat diambil bijinya jika sudah matang, sementara daging buahnya dapat dimakan langsung dengan cara diemut. Rasa daging buah kakao yang sudah matang terasa manis sekali, tak heran jika muda-mudi serta anak-anak yang gemar memakan buah cokelat (kakao). Pemanenan kakao yaitu memetik buah yang sudah matang. Potonglah tangkai buah dengan menyisahkan 1/3 bagian tangkai buah. Pemetikan sampai pangkal buah akan merusak bantalan bunga sehingga mengakibatkan pembentukan bunga terganggu, dan jika hal ini dilakukan secara terus-menerus maka produksi buah kakao akan menurun. Buah yang dipetik biasanya memiliki umur 5,5 – 6 bulan sejak proses pembungaan awal. Buah yang dipetik dimasukan dalam keranjang buah atau bakul, karung dan selanjutnya buah yang terkumpul tersebut dikumpulkan dekat rorak. Proses pemanenan kakao dilakukan pada pagi hari, dan pemecahan buah kakao siang hari. Kemudian biji kakao dikeluarkan dan dimasukan ke dalam karung, sedangkan kulit buahnya dimasukan ke dalam rorak yang tersedia.

Di pasaran harga kakao cukup melambung tinggi seiring dengan minat di pasaran industri makanan. Harga biji kakao kering di Lampung tiap kilogramnya dibandrol harga berkisar Rp. 24.000,00-, sampai Rp.30.000,00,-. Tentu harga ini tidak selamanya berlaku untuk wilayah lain di Indonesia. Kakao dapat didistribusikan secara langsung di berbagai industri cokelat dan makanan ringan, industri minuman, wafer, dan lainnya. Kakao juga dapat langsung diproduksi oleh petani kakao sendiri yaitu membuatnya menjadi bubuk ceffe cacao yang proses pembuatannya sama dengan membuat bubuk kopi robusta maupun kopi arabika. Coffe cacao di provinsi Lampung banyak dijumpai mengingat banyak sekali petani kakao yang membuat bubuk kakao tersebut setiap usai panen.

6. Pengelolaan Hasil Panen Buah Kakao (Cokelat)


Proses pengelolaan biji kakao dapat ditempuh melalui beberapa tahapan seperti berikut ini:

  • Fermentasi adalah tahap pengelolaan biji kakao, yakni bertujuan untuk menghilangkan pulp kakao (lendir pada bagian biji), menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji, serta untuk memperoleh cita rasa yang enak dan aroma yang menggiurkan;
  • Pengeringan biji kakao, yaitu mengeringkan biji kakao yang sudah difermentasi di bawah terik matahari. Tujuan dari pengeringan biji yakni untuk menghambat pertumbuhan mikroba, jamur, dan bakteri patogen berbahaya. Pengeringan biji dapat langsung dilakukan di bawah terik matahari selama 7-9 jam atau menggunakan kompor pemanas dengan perkiraan suhu 60-700 derajat celcius selama 60-80 jam. Kadar air yang baik setelah pengeringan yaitu 6%;
  • Sortasi, bertujuan untuk memperoleh ukuran tertentu dari biji kakao yang dikelompokkan berdasarkan besarnya biji sesuai permintaan pasar. Adapun syarat mutu biji kakao berkualitas yaitu tidak terfermentasi maksimal 3%, kadar air maksimal 7%, serangan hama penyakit 3% dan tentunya bebas dari kotoran.

Demikian tutorial tentang: “Cara Menanam KAKAO di kebun Agar Cepat Berbuah Lebat“. Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah menyimak, dan silakan ikuti langkah-langkah di atas untuk memperoleh hasil panen yang menguntungkan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *