Boiler Ash (Abu Ketel) Pabrik Gula Tebu di Indonesia

Ampas tebu adalah hasil samping dari proses ekstraksi (pemerahan) cairan tebu. Dari satu pabrik dapat dihasilkan ampas tebu sekitar 35%-40% dari berat tebu yang digiling. Abu ketel (boiler ash) adalah limbah padat hasil pembakaran ampas tebu (bagasse) dalam ketel. Pemanfaatan abu ketel saat ini hanya terbatas sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik dan urugan (Paramita, 2002), sisanya dibuang sebagai limbah padat.

Dalam proses pembuatan gula dari tebu dihasilkan sejumlah limbah dalam bentuk pucuk (top cane), seresah (trash), ampas (bagasse), blotong (filter mud), abu ketel (boiler ash), serta tetes (molasses). Bahan-bahan ini sebagian dapat dimanfaatkan kembali sebagai hasil samping dan sisanya dibuang sebagai limbah. Pucuk dan seresah merupakan sisa panen tebu. Ampas dikeluarkan pada saat ekstraksi tebu, sedangkan blotong dan tetes dihasilkan dari proses pemurnian gula. Ampas yang digunakan sebagai bahan bakar mengeluarkan sisa dalam bentuk abu ketel. Pucuk tebu biasanya dijadikan sebagai pakan ternak dalam bentuk silage, wafer dan pelet. Seresah umumnya dibakar begitu saja, walaupun terkadang dijadikan mulsa. Ampas dipakai sebagai bahan bakar di pabrik, bahan baku kertas dan pulp. Botong dan abu ketel dibuang sebagai urugan atau kadang-kadang dijadikan pupuk organik. Tetes merupakan bahan baku industri fermentasi seperti Mono Sodium Glutamat (MSG), L-Lysine, alkohol dan spirtus (Syafrudin dan Astuti, 2007).

Sumber Referensi:

 

 

(1). Paramita, Widya. 2002. Pengaruh Penambahan Starter EM 4 Terhadap Proses Pengomposan Anaerobik Skala Rumah Tangga. Skripsi. ITS: Semarang.

 

(2). Syafrudin dan Arieyanti D.A. 2007. Studi Pengelolaan Limbah Pabrik Gula (Studi Kasus Pabrik Gula PT. Kebon Agung di Trangkil Pati). Skripsi.   ITS: Semarang.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *