Bentuk Kompetisi/Persaingan Gulma dengan Tanaman Budidaya Pertanian

Seperti diketahui secara bersama bahwa gulma merupakan parasit pada tanaman budidaya, sebab kehadirannya tidak diinginkan. Selain parasit, gulma juga merupakan agen pembawa penyakit, virus, dan bakteri. Oleh sebab itulah, gulma yang tumbuh pada lahan tanam (bedengan) sebaiknya dibersihkan. Pembersihan/penyiangan gulma sebaiknya dilakukan secara dini, supaya tidak terlalu sulit dalam penanganan dikemudian hari.

Gulma umumnya menjadi kompetitor bagi tanaman induk/tanaman yang sengaja dibudidaya. Umumnya, kompetisi terjadi dalam hal perebutan unsur hara, air, cahaya, serta komponen organik lain yang ada di dalam tanah. Jika pertumbuhan dan perkembangan gulma dibiarkan begitu saja, maka akan berakibat pada turunnya produktivitas hasil panen.

Berikut ini bentuk kompetisi/persaingan gulma dengan tanaman budidaya pertanian buah maupun sayur mayur, diantaranya yakni:

1. Persaingan Air

Air merupakan salah satu zat pelarut penting untuk mendukung proses fotosintesis tanaman. Selain itu, air juga diperlukan sebagai pelarut berbagai jenis enzim, fitohormon, unsur hara, dan beberapa komponen organik tanah.

Tanaman Jagung Dipenuhi Gulma dengan Sistem Tanpa Olah Tanah
Tanaman Jagung Dipenuhi Gulma dengan Sistem Tanpa Olah Tanah (Tipspetani.com)

Persaingan unsur air antara gulma dengan tanaman budidaya mengakibatkan defisiensi/kekurangan air secara terus-menerus menyebabkan terhambat/terhentinya pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya serta menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam fisiologis tanaman. Perubahan fisiologis misalnya, tanaman pertumbuhannya kerdil, sering mengalami kelayuan pada sebagian atau seluruh organ tanaman, terutama daun, sel tanaman mengalami dehidrasi, dan lain sebagainya.

2. Persaingan Cahaya/Sinar Matahari

Selain air, sinar matahari juga berperan penting dalam menunjang fotosintesis tanaman. Adanya gulma pada lahan pertanian dapat menyebabkan persaingan dalam membutuhkan cahaya matahari, terutama dari pengaruh kanopi/tajuk tanaman atau gulma yang saling menaungi. Akibatnya, tanaman budidaya tidak memperoleh intensitas cahaya matahari dalam jumlah cukup, sehingga proses metabolisme dan fotosintesis tanaman terganggu. Efek negatifnya yaitu berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

3. Persaingan Unsur Hara

Lahan pertanian yang miskin unsur hara, biasanya sangat rawan jika ditanami tanaman budidaya. Apalagi di lahan tersebut terdapat gulma, maka persaingan kompetisi tanaman budidaya dengan gulma semakin ketat. Unsur hara sama-sama dibutuhkan baik oleh tanaman budidaya maupun gulma. Jika gulma tidak dibuang, maka perebutan unsur hara akan semakin banyak ditekan oleh gulma. Akibatnya yaitu tanaman budidaya menjadi kekurangan unsur hara (mengalami defisiensi/kekahatan unsur hara tertentu) yang berimbas kepada laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Termasuk gejala yang sering muncul di lapangan adalah tanaman budidaya tumbuh kerdil, pertumbuhan batangnya kurus-kurus, tanaman sulit berbunga dan berbuah, daunnya kecil-kecil tidak sesuai keadaan normalnya, dan lain sebagainya.

4. Persaingan/Kompetisi Kadar Oksigen Tanah

Kadar oksigen dalam tanah harus tercukupi secara baik, sebab oksigen juga dibutuhkan oleh tanaman untuk berbagai kebutuhan fisiologisnya. Pengaturan aerasi tanah dengan cara melakukan penyiangan gulma dan pendangiran adalah langkah tepat untuk memperkaya kadar oksigen dalam tanah.

Keempat tipe/bentuk persaingan antara gulma dan tanaman budidaya di atas semestinya diketahui oleh para petani untuk hasil tanam yang lebih bagus. Serta mencegah sedini mungkin agar tanaman budidaya tidak secara fatal terserang gulma dalam jumlah besar. Semoga bermanfaat, silakan baca juga: Pengertian Gulma Secara Umum.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *