4 Cara Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)

OPT yang biasanya disingkat/disebut-sebut oleh petani sebagai hama atau organisme pengganggu tanaman merupakan parasit patogen yang dapat menginfeksi tanaman budidaya dan memberi dampak negatif bagi produktivitas hasil pertanian hortikultura.

Dampak buruk bagi tanaman yang terinfeksi OPT adalah tanaman akan mengalami kerusakan baik itu pada organ tanamannya, menggangu proses metabolisme sel, atau mengganggu proses fisiologis pada tanaman tertentu.

Beberapa contoh dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) diantaranya adalah hama wereng, walang sangit, ulat grayak, penyakit antraknosa yang umum menyerang pada tanaman cabai, penyakit parasit akibat cendawan/fungi/jamur, dan lain sebagainya.

Jenis-jenis OPT sangat banyak ragamnya, dan satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya tentu saja memiliki gejala dan infeksi dari jenis OPT yang pasti bisa sama, berbeda, atau kombinasi dari keduanya.

Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Tumbuhan
Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tanaman Cabe, Photo Original by: Ichin Sembalun

Setidaknya ada 4 cara dalam pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang ramah lingkungan, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Menggunakan agen hayati berupa bakteri Bacillus thrungiensis 

Bakteri Bacillus thrungiensis dapat dijadikan sebagai agen hayati sebagai pembunuh hama. Bakteri Bacillus thrungiensis (Bt) mampu menghasilkan senyawa delta-endotoksin berupa toksin protein kristal yang dapat membunuh hama (OPT). Bakteri tersebut dicampurkan dengan cairan sebagai perekat, kemudian disemprotkan pada tanaman yang terinfeksi/terdapat hama dan penyakit. Jika ulat/hama memakan daun yang sudah disemprotkan cairan yang mengandung spora dan toksin kristal Bt, maka toksin kristal Bt tersebut akan mengikat reseptor khusus pada membran usus ulat, kemudian ulat berhenti makan, muntah-muntah, kotorannya menjadi berair (diare). Beberapa jam kemudian, ulat mengalami degradasi, spora Bt dan bakteri usu masuk ke dalam rongga tubuh ulat. Sekitar 1 – 2 hari ulat akan keracunan, berhenti bergerak, dan pada akhirnya mati. Contohnya adalah tanaman jagung yang disempotkan Bt akan terbebas dari ulat penggerek. Bakteri Bacillus thrungiensis ini juga dapat membunuh ngengat pada tanaman buah apel, kol, pir, brokoli, dan kentang.

Kristal bakteri Bt sebagian telah dijual di pasaran secara komersil. Jika anda membutuhkannya bisa langsung datang ke dinas pertanian di sekitar tempat tinggal anda. Biasanya mereka menyediakan. Di kios penjualan bibit tanaman/kios penjualan produk pertanian biasanya juga tersedia kristal Bt.

2. Pengendalian OPT Secara Teknis dan Biologis (Biopestisida)

Pengendalian OPT secara teknis dapat dilakukan dengan secara langsung mengambil hama yang telah menginfeksi tanaman secara manual menggunakan tangan. Pengendalian secara biologis yakni dengan menggunakan agen hayati (biopestisida) yakni contohnya penggunaan bakteri Bt seperti yang dijelaskan pada bagian point nomor 1 di atas.

3. Pengendalian OPT dengan Obat Pertanian dan Pestisida

Cara pengendalian OPT dengan obat pembasmi hama (pestisida) memang masih tergolong populer di kalangan masyarakat petani di Indonesia. Walaupun sistem pertanian organik masih dipopulerkan, namun penggunaan pestisida sejak orde baru hingga sekarang masih terus berlanjut, dan efeknya sangat buruk bagi keseimbangan ekosistem di alam. Beberapa jenis pestisida banyak sekali dijual di pasaran dengan berbagai macam merek, baik itu pestisida untuk membunuh hama (insektisida), pembunuh gulma (herbisida), pestisida pembunuh jamur/fungi (fungisida). Ingat bahwa dalam penggunaan pestisida juga harus sesuai dosis yang dianjurkan, supaya meminimalisir terjadinya pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran udara.

4. Pembasmian OPT dengan Teknik Mulsa

Tanpa anda sadari, bahwa mulsa yang terpasang di atas lahan bedengan yang sering digunakan petani sangat berguna untuk mengendalikan sejumlah OPT yang merugikan tanaman. Prosesnya yakni, pada saat mulsa plastik terkena sinar matahari, maka cahaya akan dipantulkan ke organ tanaman bagian atasnya, sehingga cahaya UV tersebut akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva ulat.

Mulsa plastik juga berguna untuk menjaga kelembaban tanah, pengaturan drainase air, mencegah supaya struktur tanah tetap gembur, mencegah erosi unsur hara/humus akibat curah hujan tinggi, dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah, mulai saat ini pastikan bahwa anda selalu menggunakan mulsa plastik saat membudidaya tanaman hortikultur di lahan perkebunan/persawahan yang anda miliki.

Dari keempat teknik di atas memang sebagian besar lebih ramah terhadap lingkungan, dan hanya penggunaan obat pertanian dan pestisida sajalah yang sering memberi dampak buruk terhadap lingkungan sekitarnya. Semoga informasi di atas bermanfaat untuk anda. Salam budidaya pertanian. Ayo menanam !

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *